TELAAH BAUDRILLARD TENTANG TERORISME GLOBAL (Didedikasikan untuk september kelabu)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

TELAAH BAUDRILLARD TENTANG TERORISME GLOBAL (Didedikasikan untuk september kelabu)

Post  monika_ on Mon Sep 09, 2013 10:05 am

I. PENDAHULUAN

Permasalahan mengenai terorisme terus menerus menjadi permaasalahan yang sangat pelik di antara berbagai isu kemanusiaan, baik dalam konteks dalam negaeri, maupun global. Diskursus dan istilah terorisme yang menjadi sangat popupler khususnya pasca serangan terhadap WTC pada tanggal 11 September 2001 (yang menewaskan lebih dari 3000 orang), dapat dipastikan masih terus berlanjut hingga saat masa sekarang ini, dan disertai oleh berbagai aksi sekaligus efek teror.
Di Eropa, pasca serangan terhadap menara kembar WTC, terjadi berbagai kasus serangan teroris, diantaranya adalah ledakan bom pada tanggal 11 maret 2004 di Spanyol, yang menewaskan 191 orang, juga ledakan bom pada tiga buah kereta api bawah tanah dan sebuah bus di Inggris pada tanggal 7 Juli 2005, yang menewaskan 56 orang.
Negara-negara timur tengah pun tidak luput dari aksi terorisme. Di Maroko, tepatnya di kota Casablanca, terjadi ledakan bom yang menewaskan 45 orang, pada tanggal 16 mei 2003. Di Arab Saudi, bom meledak di kanbtor kepolisian Riyadh, pada tanggal 11 April 2004, yang menewaskan 9 orang. Selain itu masih di Riyadh, terjadi penyerangan terhadap pemukiman warga asing pada tanggal 12 mei dan 8 November yang menewaskan 51 orang.
Selain aksi terorisme yang terus terjadi di berbagai belahan dunia, terdapat berbagai bentuk penanganan aksi terorisme oleh Negara, yang juga sering mendatangakan bentuk teror yang lain. Sebagai contoh , serangan Amerika Serikat di bawah komando President George W.Bush terhadap milisi Taliban di Afghanistan. Juga mendatangkan bentuk teror yang baru, yakni teror Negara atas nama pembersihan terorisme.
Di samping berbagai aksi teror dan terorisme yang terus terjadi, baik atas nama kelompok maupun atas nama Negara, terjdapat juga ketakutan dan suasana teror yang diakibatkan oleh isu tentang teror. Pada bulan Januari 2010, misalnya , Kedutaan besar Inggris di Yaman ditutup oleh pemerintah Inggris dengan alasan karna kekhawatiran pemerintah Inggris dengan serangan teroris yang marak terjadi disana. Di Indonesia penangkapan Pimpinan pondok pesantren Al Mukmin ngeruki solo, Jawa Tengah, Abu Bakar Baasyir, oleh polisi, menimbulkan suatu perang klaim antara Baasyir dan pengikutnya, kontra Polri.
Perang klaim tersebut menimbulkan suat ketegangan tertentu, juga pada taraf tertentu menambahkan kebingungan, terutama pada ranah identitifikasi terhadap terorisme.perang klaim ini seakan mewakili perang klaim dalam konteks terorisme global, yaitu antara Amerika melawan kelompok Muslim Radikal. Proses saling klaim ini yang pada akhirnya menjadi suatu hal yang sangat membingungkan karena pihak yang berseteru terlibat saling klaim yang mana yang teroris sesungguhnya.
Bertolah dari penyelidikan sejak tahun 1960-an tentang situasi budaya pada masyarakat kapitalisme lanjut (yang juga dipahami dengan masyarakat consumer) dengan berbagai macam fenomena kekerasa yang terjadi di dalam dinamika masyarakat, Baudrillard menafsirkan permasalahan 11 September secara unik, berdasarkan kerangka-kerangka konseptual dari padangan-pandanganya terdahulu.
Pandangan Jean Baudrillard tentang terorisme tidak dapat dilepaskan dari berbagai kerangka pandangan pokok sebelum aksi teror itu terjadi, seperti tentang padanganya tentang masyarakat consumer, hiperalitas, dan simulasi. Bagi Baudrillard masyarakat consumer memiliki suatu mekanisme kekerasan dalam diri sendiri, dimana di dalamnya terdapat logika persaingan yang ganas yang ternyata ditimbulkan oleh karena proses konsumsi, yang sering menimbulkan kelelahan, bukan kelelahan fisik, melainkan kelelahan psikosomatis. Di sini, proses persaingan masyarakat consumer menciptakan sebentuk kekerasan dan teror tersembunyi terhadap masyarakat, yang menimbulkan kelelahan, depresi, dan kepasifan total yang dapat melumpuhkan masyarakat.
II. RUMUSAN MASALAH.
Seperti pemaparan yang telah penulis sebutkan diatas, penulis merasa perlu untuk merumuskan masalah yang akan penulis bahas di dalam makalah ini, agar pembahasan penulis tidak menjadi sangat meluas. Adapaun perumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut:
• Apakah pengertian terorisme menurut Baudrillard?
• Apa yang sebenarnya terjadi dalam permasalahan terorisme ini?
• Bagaimanakah terorisme dalam pandangan Baudrillard?

III. KERANGKA TEORI
Untuk membahas kasus tentang Terorisme Global ini, penulis mencoba menggunaka pemikiran dari Filsuf kontemporer Jean Baudrillard, yang dimana penulis yakini dapat menjawab permasalahan yang sangat pelik ini. Selanjutnya pautu diakui bahwasanya penyelidikian terhadap konsep terorisme Baudrillard dalam tulisan ini, hanyalah suatu perspektif lain yang penulis tawarkan sebagai suatu cara pandang alternatif tentang persoalan terorisme dengan merujuk kepada pandangan Baudrillard.

IV. PEMBAHASAN
Dalam Esai yang berjudul “The Spirit of Terrorism”, Baudrillard menulis bahwasanya peristiwa teror, terutama peristiwa 9/11 adalah suatu peristiwa yang bukan hanya berdampak global, tetapi peristiwa yang pada akhirnya menghadirkan suatu permasahan-permasalahan baru mengenai Globalisasi itu sendiri”. Peristiwa ini pun dianggap sebagai induk dari peristiwa yang didalamnya terangkum semua peristiwa yang tidak pernah terjadi. “Tidak pernah terjadi” (never take place) adalah sebuah frase yang sama yang digunakan oleh Baudrillard untuk menggambarkan perang teluk, hanya merupakan suatu manipulasi citra berdasarkan keinginan media, suatu pewartaan yang berbeda dengan peristiwa perang dalam kenyataanya.
Namun, peristiwa 9/11 dianggap sebagai suatu peristiwa kekerasan yang sangat nyata, yang merangkum segenap peristiwa yang tidak pernah terjadi. Dalam hal ini , terdapat perubahan pandang Baudrillard, bahwa keruntuhan yang ada bukan hanya ilusi dan manipulasi citra dari media, melainkan merupakan sebuah peristiwa real yang didalamnya mengandung kekerasan dan aksi teror yang sebelumnya tidak pernah di beritakan oleh media.
Dalam menghadapi homogenisasi power global yang kini ada, akan mendatangkan berbagai kekuatan heterogen yang muncul. Kekuatan tersebut bukan hanya sekedar berbeda, kekuatan tersebut pada akhirnya justru bersifat antagonistis, yang dalam berbagai aspek bertentangan dengan pemikiran pencerahan atau bentuk-bentuk kebudayaan dan religious umumnya, sehingga dilihat sebagai buas, suatu anomaly, irasional, keras. Mereka menolak suatu nilai tunggal yang ditawarkan oleh Sistem Globalisasi yang kini eksis, namun mereka tidak menwarkan jalan alternative terjadap jalan tunggal yang ditawarkan oleh globalisasi. Mereka memiliki suatu role model sendiri dalam ke-singularitasanya dimana terorisme merupakan salah satu contnya. Jadi Terorisme merupakan sebuah bentuk penolakan terhadap kekuatan global yang tunggal sebagai suatu usaha dalam menyelisihi kebudayaan singular dalam era globalisasi sekarang ini.
Selanjutnya, menurut Baudrillard, selayaknya sebuah sistem, segala macam hal yang bertentangan dengan globalisasi semuanya dianggap sebagai teror. Karena sistem global ditandai dengan tingkat keteraturan dan efisiensi yang tinggi, maka setiap guncangan dapat dianggap sebagai teror. Bahkan bencana alam pun dapat di klain sebagai suatu aksi terorisme. Selain itu juga peristiwa yang sangat irasional adalah keterbukaan terhadap berbagaiberbagai penafsiran. Hal ini pada giliranya bergantung pada kekuatan dan kekuasaan untuk memberikan klaim terhadap suatu peristiwa. Karenanya, terorisme sering bukan hanya persoalan radikalisme dan irasionalitas suatu peristiwa, melainkan persoalan kekuasaan untuk memberikan klaim. Dalam sebuah sistem tunggal yang berkuasa, klaim selalu dimenangkan oleh kekuatan tunggal yang berkuasa. Sebuah sistem yang dianggap seperti Tuhan yang tidak dapat dipersalahkan, segala sesuatu yang mengancam sistem itu akan di klaim sebagai perusuh ataupun teroris. Jadi menurut Baudrillard, terorisme merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem global, dan sering dikonstruksi oleh sistem global, yang menyebabkan realitas teror menyebar secara langsung. Singkatnya, terorisme tidak dapat dipisahkan oleh proses globalisasi dengan berbagai antagonism nya.
Bagi Baudrillard, setiap cita-cita akan kebaikan, di dalamnya mengandung sebuah paradox. Usaha kea rah kebaikan juga bersifat paradox. Ketika sebuah hegemoni menyerap siap krisis dan menciptakan sebuah keamanan, secara implisi terdapat sebuah ketakutan tertentu yang menyertainya: yaitu ketakutan akan kematian. Inilah kerapuhan mendasar bagi setiap hegemoni yaitu ketakutan dan kematianya sendiri. Hal ini merupakan sebuah bentuk kelemahan dalam menghadapi terorisme itu sendiri. “what does American bombing matte? Our men are eager to die, as American are to live”. Jadi dapat kita tarik kesimpulannya bahwasanya teror merupakan suatu permainan kematian. Idealnya dari suatu sistem adalah menghindari kematian, namun para teroris justru merancang kematian sendiri dan menjadikan kematian sebagai kunci permainan. Para teroris melancarkan aksinya tanpa kontrak pekerjaan, melainkan berdasarkan sebuah semangat akan pengorbanan, yang memandang kematian adalah sebuah tindakan heroik, karena kekuatan hegemoni menghindari kematian, maka para teroris memenangkan teror pada wilayah simbolik, inilah yang disebut Baudrillard sebagai “pertukaran mustahil dari kematian” dimana para teroris menawarkan kematiannya sendiri, sedangkan kekuatan dominan tidak dapat membalasnya, sehingga pada akhirnya para teroris memenangkan peperangan ini secara simbolik.
Sambil menegaskan bahwa terorisme merupakan sebuah permainan kematian baik dalam tatanan riil maupun simbolik, Baudrillard kemudia melihat peranan media massa dalam peristiwa teror maupun aksi terorisme. Sebelum terjadi kasus 9/11, Baudrillard , mengungkapkan bahwasanya peristiwa-peristiwa yang diberitakan oleh media merupakan simulasi yang penuh dengan kepalsuan, namun, peristiwa runtuhnya WTC bagi Baudrillard bukan hanya sebagai permainan Citra, melainkan sungguh-sungguh riil adalah apa yang terjadi pada detik-detik keruntuhan . yang tersisa pada waktu setelahnya adalah gambaran-gambaran / Citra/ Imaji (images) tentang teror. Citra –citra ini yang tinggal tetap, karena citra-citra ini bagi Baudrillard, juga merupakan “Kejadian pertama kita” dalam memandang peristiwa teror. Kita memandang peristiwa konkrit runtuhnya menara kembar WTC, telah menyedarkan kita baik tentang Citra/ Gambaran-gambaran (images) maupun realitas. Namun, gambaran-gambaran itu memiliki sifat yang destruktif, karena dapat dipakai sebagai senjata oleh teroris untuk melanggengkan situasi terornya.
Dari pandanganya tentang peran imaji dalam memperbesar efek teror, Badrillard, kemudian mengkritik peran alat informasi yang menyebarluaskan imaji teror tersebut. Bagi baudrillard terdapat berbagai kontradiksi peran yang dimainkan berbagai alat informasi dalam peristiwa teror. Alat informasi biasanya menyebarkan “gambaran nyata” tentang peristiwa tertentu. Peristiwa teror terjadi pada waktu yang riil yang cepat dalam ruang lingkup terbatas. Namuun, oleh karena efektifitas pertukaran informasi dalam sistem komunikasi global, peristiwa tersebut disebarkan dengan segera ke seluruh dunia . ruang dan waktu peristiwa teror berubah, peristiwanya pun berubah, dan efeknya berubah, kini pada akhirnya teror yang terjadi dalam waktu yang riil diabadikan dengan dalam imaji atau gambaran teror. Alat-aat penyebar imaji tersebut memanipulasi teror yang riil sebagai sebuah bahan konsumsi, maka yang terjadi adalah tertutupnya sebuah kebenaran dari peristiwa teror yang tertinggal yhanyalah sebuah realitas virtual yang ambigu, sekaligus bentuk fiksi.
Selanjutnya Baudrullard bertanya: apakah yang tersisa dari peristiwa riil tersebut jika realitas telah dikuasai oleh imaji-imaji dan fiksi? Tidak ada lagi yang tersisa dari realitas, yang ada adalah pertarungan abadi dari realitas dan fiksi. Bahkan, peristiwa seperti runtuhnya menara kembar, pada saat ini adalah campura antara realitas dan fiksi. Pada saat ini, realitas telah banyak menyerap fiksi, dan dalam kadar tertentu telah menjadi sebentuk fiksi. Dalam istilah Baudrillard, realitas adalah “kecemburuan dari fiksi” dan yang riil adalah “kecemburuan dari imaji”. Hal ini berhubungan sangat erat dengan simulasi. Dalam dunia simulasi , batas antara ke duanya tidak lagi dapat dilihat, yang dalam hal ini adalah kasus terorisme.
Dalam kritiknya terhadap media, Baudrillard menempatkan media sebagai agen penyebaran imaji, pada tempat pertama, suatu realitas teror dalam “waktu riil” yang singkat dan terbatas. Kemudia realitas teror tersebut disebarkan oleh media .teror yang riil tersebut ditambahkan berlipat ganda dalam imaji, bukan hanya karena hal itu mengerikan, melainkan memang karena teror itu riil, dimana realitas teror riil melipatgandakan sensasi teror , ketimbang teror dalam sinema. Selanjutnya terlihat bahwa yang riil telah berubah menjadi imaji dan setelah itu kesan kuat teror dalam imaji melipatgandakan sensasi teror sehingga kesan riil teror awal dengan sendirinya menghilang, berganti dengan imaji teror baru yang lebih kuat. Jadi yang pertama adalah kekerasan dalam realitas, dan kekerasa tersebut masuk dalam kemampuan imaji dan menimbulkan kesan kuat dan berlipat ganda dalam imaji, imaji kini menjadi realitas teror pertama yang baru, dan kesan kuat terhadap teror riil ditambahkan oleh berbagai factor termasuk media.






V. KESIMPULAN
Baudrillard kemudia menarik kesimpulan radikal bahwa terorisme sekarang berubah menjadi sebuah bentuk fiksi, karena sudah sangat jauh dari bentuk riil pada waktu riil. Teror yang disajikan menjadikanya semacam fiksi yang ditambahi, menjadikanya “fiksi yang melampaui fiksi” dan “yang riil pun menjadi fiksi utama yang paling meragukan.
Bukan menunjukan bahwa aksi teror yang terjadi tidaklah terjadi, akan tetapi teror yang terjadi memang betul-betul terjadi hanya saja memiliki aspek simbolik yang sungguh sangat perlu untuk di bongkar maksud dibaliknya agar seluruh entitas global dapat mengerti mengenai apa yang sebenarnya terjadi










DAFTAR PUSTAKA
• Jean Baudrillard Requim fro Twin Towers, The Violance of the Global dan Hypotheses on Terrorism. (New yotk:varso 1998)
• Jean Baudrillard, The spirit of terrorism. Penerjemah. Chris Tunrner (new York:Varso,2002),
• Jean Baudrillard Ssimbolic Excange and death, new delhi, sage publication, 1993
• Ule, Silvester. Terorisme global, tinjauan, kritik, dan relevansi pandangan Jean Baudrillard, ledalero 2011

monika_

Jumlah posting : 14
Join date : 09.09.13

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik